Konservasi mangrove bukanlah gerakan yang selesai dalam hitungan bulan. Ia adalah perjalanan panjang yang bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan tanpa jaminan keberhasilan.
Upaya ini ibarat sebuah “perjudian” dengan alam. Bukan karena kurang perencanaan, tetapi karena alam memiliki kehendaknya sendiri. Kita bisa menanam dengan metode terbaik, namun pada akhirnya, alam yang menentukan mana yang bertahan.
Program restorasi mangrove di Fanating, Pailelang, dan Welai Barat telah berlangsung hampir dua tahun. Kami berhasil menanam lebih dari 6.200 anakan mangrove. Namun, setelah fase tanam selesai, tugas baru menanti; memastikan mereka dapat tumbuh dan bertahan melalui perubahan cuaca yang ekstrem. Sampai saat ini, lebih dari 400 anakan mati, terutama karena hantaman ombak yang tak kenal ampun pada bibit-bibit muda yang belum berusia dua tahun.

Lalu, apa yang harus dilakukan?
Kami sadar bahwa keberlanjutan restorasi hanya dapat tercapai melalui pemantauan rutin dan penanaman bibit baru sebagai pengganti yang mati. Mati satu, tumbuh seribu—itulah prinsip yang kami pegang.
Namun, kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan lebih banyak tangan dan lebih banyak hati yang terlibat. Dari situlah lahir gagasan untuk membentuk kader mangrove.
Upaya restorasi tidak hanya tentang kegiatan edukasi atau penanaman seremonial. Kami membutuhkan keterlibatan masyarakat lokal secara menyeluruh, sebuah kehadiran yang bukan sekadar simbolis, tapi benar-benar menjadi bagian dari proses pemulihan pesisir.
Kader mangrove berasal dari anak-anak muda yang hidup dan tumbuh di wilayah restorasi. Ada tiga alasan utama mengapa kami memilih pemuda lokal. Pertama mereka memiliki hak dan tanggung jawab atas tanah mereka, kedua mereka berhak mendapat peran signifikan dalam menjaga wilayahnya, dan ketiga mereka berhak mendapatkan pengetahuan dan kesempatan untuk berperan dalam konservasi. Bukan hanya lewat ruang-ruang edukasi bertembok tinggi, namun ruang belajar terbesar adalah alam itu sendiri.

Restorasi bukan hanya soal mengembalikan tutupan hijau pesisir, melainkan juga upaya membangun rasa memiliki dalam masyarakat. Sebuah gerakan tak akan berarti tanpa dukungan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
Mengapa, lagi dan lagi, kami berfokus pada anak muda. Jawabannya tentu karena mereka adalah generasi penerus bangsa, atau bisa juga disebut merekalah yang akan melanjutkan pewarisan dan penjagaan tempat dimana mereka berpijak. Terdengar klise memang, namun demikian lah harapan yang disematkan kepada anak muda, terutama penduduk asli.
Peran orang tua dan tokoh masyarakat tentu tetap penting, namun regenerasi harus berjalan. Sepengalaman kami, pemuda lokal justru memiliki pengetahuan dan cara yang sejatinya dapat melengkapi usaha-usaha restorasi. Mulai dari pemahaman akan wilayah pesisir sampai pendekatan kepada kelompok masyarakat sekitar. Mereka adalah perpanjangan tangan yang akan menyempurnakan puzzle besar restorasi ini.
Melalui seleksi yang melibatkan pemerintah desa dan kelurahan, terpilih tiga pemuda sebagai kader mangrove. Desa Fanating diwakili oleh Suku, pemuda asli yang juga aktif dalam kegiatan restorasi di desanya. Charles, pemuda yang sangat tertarik dengan usaha pemulihan alam, terutama pesisir, menjadi perwakilan dari Welai Barat. Sedangkan perwakilan Pailelang adalah Stevenson, pemuda asli yang dikenal aktif dalam kegiatan kepemudaan.

Ketiga kader mangrove ini, yang sering kami sapa para kader, selanjutnya diberikan pelatihan. Mulai dari pengenalan jenis-jenis mangrove, cara melakukan pencarian buah mangrove, penyemaian, penanaman, serta melakukan monitoring pertumbuhan. Mereka merasakan dan melihat langsung proses dari awal mencari sampai dengan memastikan pertumbuhan mangrove yang ditanam.
Kami akan terus membarakan usaha yang sudah berjalan sejauh ini. Enam ribu lebih anakan yang telah tertanam bukan sekadar angka, itu adalah wujud kerja keras dan harapan bersama. Dengan hadirnya kader mangrove, kami berharap napas program ini terus menyala meskipun perlahan.
Sebuah program mungkin memiliki batas waktu. Namun warisan dari usaha ini harus tetap hidup. Pemerintah, lembaga, masyarakat, dan terutama pemuda, semuanya memegang peran penting. Lewat keterlibatan anak muda lokal, usaha ini akan menjangkau lebih banyak tangan dan lebih banyak hati untuk bergerak bersama.

Satu lagi langkah yang kami tempuh ini sejatinya adalah sebuah usaha memperpanjang harapan. Bahwa lewat keberadaan pemuda lokal, pemuda asli, usaha restorasi akan merangkul lebih banyak pasang mata, lebih banyak tangan yang bergerak, lebih banyak usaha kolektif. Pada akhirnya, harapan membangun “Sang Pelindung Pesisir” akan terus diwariskan dan diusahakan.
Penulis: Maria Bernadeth Tukan/Umar Tusin