Fungafeng, Alor — Pada Jumat (24/10) Thresher Shark Indonesia (TSI) menyelenggarakan sosialisasi restorasi mangrove di Desa Fungafeng yang merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Alor. Kegiatan yang berlangsung di aula kantor desa ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mangrove dalam melindungi garis pantai dari abrasi.
Abrasi telah menjadi masalah serius yang dihadapi masyarakat pesisir, termasuk di Desa Fungafeng. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mengedukasi warga agar lebih peduli terhadap perlindungan pantai dan ekosistem laut.
Acara dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari kepala desa, nelayan, tokoh pemuda, hingga kelompok ibu-ibu. Selain membahas restorasi mangrove, diskusi juga menyinggung topik tentang thresher shark (hiu tikus), mengingat sebagian warga merupakan nelayan yang kerap berinteraksi dengan spesies tersebut.
Salah satu staff program mangrove, Fransista Ahalfani, bertindak sebagai moderator, sementara materi disampaikan oleh project lead program mangrove, Florinda Gerimu. Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Desa Vinsensius Padama setelah penjelasan singkat mengenai tujuan kegiatan dari koordinator pengembangan masyarakat. TSI, Igo Arianto.
Florinda memulai sesi dengan pemutaran video informatif tentang hiu tikus yang menjelaskan jenis-jenis hiu tikus di perairan Alor serta perannya sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Video tersebut juga menyoroti ancaman terhadap populasi hiu akibat praktik penangkapan yang berlebihan dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.

Dalam penjelasannya, Florida menyampaikan bahwa Peraturan Gubernur Provinsi NTT serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KEPMEN) Nomor 30 Tahun 2023 telah menetapkan perlindungan penuh terhadap beberapa jenis hiu, termasuk hiu tikus. Ia juga menepis rumor bahwa sirip hiu dapat menyembuhkan penyakit, karena hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal tersebut.
“Hiu yang hidup di perairan kita bisa mengandung logam berat dan berbahaya jika dikonsumsi,” jelas Florinda.
Setelah materi hiu tikus selesai, Florinda lanjut membahas pentingnya ekosistem mangrove. Melalui tampilan visual, Florida menjelaskan definisi, jenis, fungsi, hingga penyebab kerusakan mangrove serta berbagai strategi pemulihan ekosistem pesisir.
Masyarakat Fungafeng menyambut antusias materi tersebut dan berbagi pengalaman pribadi. Salah satu nelayan, Stefanus, menceritakan bahwa ia pernah menangkap hiu tikus karena kurangnya informasi.
“Dulu saya tangkap hiu tikus dan kami makan. Tapi setelah diberi tahu Lekison dari TSI kalau hiu itu dilindungi dan berbahaya jika dikonsumsi, saya tidak lagi menangkapnya. Pernah dapat lagi, tapi langsung saya lepas,” ujar. Stefanus..
Pengakuan lain juga diceritakan oleh masyarakat lainnya yang sudah lama tinggal di desa Fungafeng bernama Marianus. Marianus mengatakan isu abrasi pantai juga menjadi perhatian utama masayarakat. Banyak lahan produktif yang dulunya ditanami kelapa kini hilang akibat air laut yang terus naik.
“Dulu pantai ini masih sekitar 30 meter ke bawah, tapi sekarang air laut sudah naik ke darat. Kami buat tambatan perahu untuk menahan abrasi, tapi sekarang kami tahu menanam mangrove juga bisa membantu, dan saya ingin mencoba itu,” ujar Marianus, salah satu masyarakat Desa Fungafeng.
Kepala Desa Fungafeng, Vinsensius Padama, menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan aksi nyata.
“Kegiatan ini tidak akan berhenti di ruangan ini. Besok kami akan berupaya mencari bibit mangrove. Kalau ada bantuan dua atau tiga bibit dari TSI untuk kami uji tanam, dan berhasil, kami akan menanam lebih banyak lagi di seluruh pesisir,” ujarnya.

Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga pantai dan melindungi ekosistem laut. Lebih dari sekadar menanam pohon, kegiatan ini menegaskan peran mangrove sebagai benteng alami penahan abrasi dan pentingnya hiu tikus dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
TSI berharap kegiatan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk saling mendukung dan menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga laut. Dengan ekosistem laut yang sehat, tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjamin sumber daya perikanan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Program sosialisasi mangrove merupakan salah satu program dari Thresher Shark Indonesia dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya ekosistem mangrove. Program ini mendapat dukungan dari McPZ Foundation yang berfokus pada restorasi ekosistem mangrove.
Penulis: Jesika Yetimauh/Umar Tusin