Proyek Kami

Menyelidiki Habitat Kritis Hiu Tikus Pelagis di Kawasan Konservasi Laut Selat Pantar

Selama beberapa dekade terakhir, penelitian Hiu Tikus Pelagis (Alopias pelagicus) sebagian besar berfokus pada penelitian perikanan tangkap untuk memantau hasil tangkapan dan menentukan perubahan populasi. Di Indonesia, penelitian yang secara khusus berfokus pada memahami habitat kritis spesies ini dalam upaya pencegahan kematian sangat terabaikan. Selain itu penelitian terkait perspektif ekologi dari spesies yang bermigrasi, menghambat ekosistem lepas pantai, dan laut dalam menyulitkan intervensi konservasi yang efektif.

Nelayan Alor, melepaskan hiu tikus setelah tagging
Nelayan Hiu Alor, Sahlul, membantu melepaskan hiu tikus setelah tagging

Di Alor sendiri, keberadaan A. pelagicus di sekitar kawasan terumbu karang, dan kurang lebih 2 km dari bibir pantai. Masyarakat di Alor menangkap A. pelagicus hamil dan remaja hampir sepanjang tahun, sebagai mata pencaharian dan sumber protein. Dengan menggunakan kombinasi teknologi penandaan satelit dan akustik, Thresher Shark Project Indonesia melibatkan nelayan hiu Alor dalam upaya penelitian untuk memahami habitat dan keberadaan spesies di dalam Kawasan Konservasi Laut (KKP) 400.000Ha, dengan tujuan untuk mengubah perilaku dengan mengubah persepsi dan interaksi mereka dengan hewan.

Tujuan dari Investigasi Habitat Kritis ini, khususnya menggunakan studi penandaan akustik, adalah untuk memahami habitat spesies, seperti di mana kawasan yang menunjukkan perilaku dan kebiasaan, kapan mereka biasanya mengunjungi kawasan itu, dan dalam rentang waktu berapa lama. Penelitian ini akan membantu kami dalam memberikan rekomendasi berbasis spasial dan temporal kepada otoritas pengelolaan KKL untuk mengembangkan kebijakan lokal yang akan melindungi penduduk lokal.

Di sisi lain, informasi dari penanda satelit dikomunikasikan kepada Pemerintah Pusat, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai pengetahuan spesies dalam dokumen rencana tata ruang laut (RZWP3K). Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Conservation International Indonesia untuk meningkatkan strategi pengelolaan nasional spesies hiu di Indonesia.

Cari tahu lebih lanjut dalam peta

Rafid, ketua Thresher Shark Project Indonesia, melakukan tagging
Project Leader, Rafid Shidqi memasang tag satelit di sirip dorsal di hu tikus

Project supporter: MAC3 Impact Philanthropies, Sunbridge Foundation

Thresher Shark Champion: 20 Pemuda Penjaga Laut Alor

Thresher Shark Champion merupakan bagian dari kegiatan Thresher Shark Project Indonesia pada tahun 2020. Sebelumnya pada tahun 2018, Thresher Shark Project Indonesia telah berkerja sama dengan para pemangku kepentingan terkait perlunya kebijakan konservasi serta mengatasi konflik masyarakat terhadap mata pencaharian. Untuk itu, sangat diperlukan program peningkatan kesadaran dan pemantauan berkelanjutan agar memastikan masyarakat memahami pentingnya perlindungan terhadap spesies hiu tikus. 

Sejalan dengan harapan tersebut, program Thresher Shark Champion ditujukan mengembangkan pemuda setempat untuk melakukan upaya konservasi terhadap hiu tikus serta memberikan kesadaran kepada masyarakat. Nantinya, akan terpilih 20 pemuda melalui pemilihan secara terbuka dengan rentang umur 18-22 tahun. Para pemuda ini merupakan anak-anak yang berasal dari daerah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Thresher Shark Project mengenalkan kehidupan laut kepada anak-anak melalui buku Nia dan Nimang
Rafid mengenalkan habitat laut kepada anak-anak melalui buku Nia dan Nimang

Misi dari program ini untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan terkait konservasi hiu tikus dan konservasi laut secara umum. Kegiatan program ini meliputi;

  1. Seleksi Pemuda
  2. The Conservation Camp akan berlangsung selama kurang lebih tujuh hari. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan para pemimpin yang akan melakukan perlindungan serta meningkatkan kesadaran masyarakat sekitarnya.
  3. Pemantauan Kegiatan Perikanan dan Ekologi akan melatih para pemuda dalam memahami ekologi dan survei dan pemantauan perikanan di Selat Pantar bersama nelayan hiu tikus.
  4. Penjangkauan dan Pendidikan akan membagi pemuda ke dalam kelompok kecil untuk meningkatkan kesadaran terkait perlindungan hiu tikus di sekitar mereka.
  5. Pengukuhan Thresher Shark Conservation Champion Program, pada akhir program, para Thresher Shark Champion akan memberikan laporan kegiatan penjangkauan dan dilantik sebagai “Thresher Shark Conservation Champion” oleh pemerintah daerah sebagai pengakuan atas misi juara dan peran konservasi hiu tikus di Alor.

Setelah melalui beberapa tahapan para 20 pemuda terpilih akan berperan sebagai pemantauan ekologi dan perikanan hiu tikus secara berkelanjutan serta dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi. Selain itu, mereka diharapkan dapat melakukan upaya konservasi jangka panjang di wilayah mereka masing-masing dan perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap konservasi dari ancaman kehilangan sumber mata pencaharian.

Project supporters: East-West Center Innovation Fellows 2020

Mengembangkan Kebijakan Konservasi Lokal untuk Hiu Tikus Pelagic

Pada kegiatan sebelumnya, Thresher Shark Project Indonesia telah melakukan diskusi bersama para pemangku kepentingan di Alor untuk melestarikan populasi hiu tikus yang kerap menjadi sasaran tangkap bagi masyarakat setempat. Kemudian pada tahun yang sama, pemerintah daerah mengusulkan untuk membuat peraturan daerah terkait pelarangan penangkapan hiu tikus sebagai sasaran, serta memasukkan hiu tikus pelagis sebagai aset pariwisata Alor.

Selanjutnya, untuk menindaklanjuti inisiatif tersebut, pada tahun 2020 ini kegiatan kami bertujuan untuk membantu proses penetapan kebijakan tersebut. Meski demikian, kebijakan sudah digaungkan oleh pemangku kebijakan. Masyarakat pun mau menghentikan penangkapan hiu tikus dengan catatan, mereka diberi alternatif mata pencaharian baru yang sepadan nilainya. Oleh karena itu, pengakuan dan kesepakatan dari para nelayan hiu tentang penerapan kebijakan di masa depan perlu dibahas di tingkat desa, untuk memastikan bahwa pilihan mata pencaharian alternatif dipilih berdasarkan prioritas nelayan.

Untuk mengakomodasi proses percontohan dan membantu merumuskan mata pencaharian alternatif, kami mengintegrasikan pencarian solusi tersebut ke dalam Dana Desa. Harapannya, dari program yang dikelola dana desa akan lebih memiliki potensi berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan dari intervensi eksternal.

Diskusi dengan para pemangku kepentingan terkait konservasi hiu tikus
Membahas isu, tantangan dan peluang konservasi hiu tikus bersama dengan masyarakat

Untuk mencapai tujuan pengembangan kebijakan dalam proyek ini, kami memiliki beberapa kegiatan penunjang antara lain;

  1. Sinkronisasi penetapan kebijakan bersama pemerintah Kabupaten dan dua desa nelayan hiu tikus, untuk memastikan partisipasi inklusif di antara nelayan hiu, dan mitigasi konflik.
  2. Bersama-sama merancang dan menetapkan intervensi desa dengan membantu penggunaan dana desa secara efektif untuk mengembangkan alternatif selain penangkapan hiu tikus.
  3. Mengumpulkan data tentang penangkapan hiu tikus, dan status sosial ekonomi masyarakat serta persepsi selama proyek untuk menilai dampak proyek

Melalui beberapa pendekatan, antara lain:

Mengembangkan Rancangan Kebijakan Daerah di Tingkat Kabupaten

Kami akan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Alor untuk membahas proses hukum dan politik dalam mengembangkan peraturan daerah. Kami akan membentuk komite pengarah yang terdiri dari para pemangku kepentingan yang tugasnya berada di bawah konservasi sumber daya laut, penelitian, dan pengembangan masyarakat. Proses pengembangan dan pengesahan akan melalui 1) penyusunan draft kebijakan, 2) persetujuan setelah konsultasi publik dengan semua pemangku kepentingan terkait, 3) validasi oleh Pemerintah Kabupaten

Integrasi ke dalam Dana Desa

Kami akan fokus bekerja di dua desa nelayan hiu. Kami akan melibatkan mereka di awal proses tentang ide dan implementasi proyek ini. Nelayan akan dilibatkan dalam pertemuan tersebut, dan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menentukan keterampilan, peralatan dan dukungan lain yang dibutuhkan untuk pengembangan perencanaan mata pencaharian alternatif. 

Proses pengintegrasian rencana ke dalam dana desa akan melalui beberapa proses antara lain: 1) Pembentukan kelompok partisipatif nelayan, 2) penyusunan visi dan kebijakan yang diinginkan untuk program pembangunan desa, 3) penetapan rencana aksi desa, 4) kesepakatan masyarakat, dan 5) ditetapkan oleh kepala desa.

Pemantauan dan evaluasi

Evaluasi kepuasan kebijakan akan dilakukan di akhir proyek dengan mengundang Kepala Desa dan Nelayan Hiu. Diskusi kelompok terfokus akan mengumpulkan persepsi nelayan setelah implementasi kebijakan dan membahas kebutuhan perbaikan untuk implementasi kebijakan yang berkelanjutan di tingkat desa.

Project supporters: Shark Conservation Fund, East-West Center Innovation Fellows 2020