Conservation Champion Batch 1

Thresher Shark Conservation Champion Batch 1 merupakan program pengembangan pemuda untuk melakukan upaya konservasi pesisir dan laut Alor yang diiniasiasi pada tahun 2020. Terdapat 20 pemuda Alor terpilih sebagai Conservation Champions Batch 1 yang berasal dari tujuh kecamatan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Selama enam bulan mereka turut serta dalam upaya konservasi dengan menginisiasi proyek konservasi berdasarkan permasalahan di daerahnya masing-masing, guna mewujudkan lingkungan Alor yang berkelanjutan.

Program Thresher Shark Conservation Champion Batch 1 didukung oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme yang diadministrasikan oleh Australia Awards di Indonesia, East-West Center, Sustainable Ocean Alliance – Ocean Solutions Microgrant, dan Shark Conservation Fund. Program ini akan dilaksanakan mulai Januari hingga Maret 2021 dan mentor akan dilibatkan dalam pengembangan program sejak November 2020.

Cerita

Pemerintah Kabupaten Alor Membuka Program Thresher Shark Conservation Champion Batch 2

Alor – Pemerintah Kabupaten Alor melalui Bappelitbang serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Alor secara resmi membuka Thresher Shark Conservation Champion 2, pada hari  hari Senin (18/07/2022), bertempat di Aikoli Kang Resort, Kelurahan Welai Barat, Kecamatan Teluk Mutiara. Setelah terpilih sebagai “Champion”, 16 pemuda Alor mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan dalam The Conservation Camp selama…

16 Pemuda Alor Terpilih Sebagai Kader Thresher Shark Conservation Champion Batch 2

Alor – 16 pemuda Alor terpilih sebagai Kader Thresher Shark Conservation Champion Batch 2 pada hari Selasa (5/7/2022), bertempat di Aula Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Alor. Kali ini, Thresher Shark Indonesia menerima 141 pendaftar yang berasal dari 11 Kecamatan di seluruh Kabupaten Alor. Seluruh pendaftar diseleksi kembali berdasarkan kelengkapan berkas, umur dan penilaian esai.…

Thresher Shark Indonesia Kembali Menggelar Program Pelatihan Konservasi Laut untuk Pemuda Alor

Setelah keberhasilan program Thresher Shark Conservation Champion Batch 1, kini Thresher Shark Indonesia kembali mengajak para pemuda Alor dengan minat tinggi dalam bidang konservasi laut untuk mengikuti pelatihan pengembangan kapasitas dan kepemimpinan di Thresher Shark Conservation Champion Batch 2.  Thresher Shark Conservation Champion pertama kali diinisiasi di tahun 2020 dengan 20 pemuda Alor terpilih berumur…

Mentor

Bobby Dwi Kusuma Mentor Thresher Shark Champion

Geanisa Vianda Putri Mentor Thresher Shark Champion

Dea Hasna Isadora Mentor Thresher Shark Champion

Putra Malik Akbar Mentor Thresher Shark Champion

Champions

Udin Abue Alor Barat Laut

Hilarius Kamaleng Alor Barat Daya

Kamarudin Lelang Alor Barat Laut

Ayub Laan Bain Teluk Mutiara, Kalabahi

Sri Wulandari Teibang Ampera, Alor Barat Laut

Muthia Prasong Teluk Mutiara

Lekison Padafani Alor Tengah Utara

Najamudin Usman Lewalu, Alor Barat Laut

Krisnasari Laapuling Tanjung Sembilan

Jamaludin B. Demang Alila Timur

Yemima Henderina Maalo Teluk Mutiara, Kalabahi

Arif Agung B. Sanga Kikilai

Amri Bali Ampera, Alor Barat Laut

Rayitno A. L. Koi Teluk Mutiara, Kalabahi

Fransista Yulinda Ahalfani Kelapa Lima

Irwan Langko Kokar

Endang Syaban Lewalu, Alor Barat Laut

Markus A. Beri Pantar

Yodhikson M. Bang Teluk Mutiara, Kalabahi

Cornelis Banabera Wolatang, Kalabahi

Projects

LAPORAN HASIL TAHUN 2020-2021

Dari Oktober 2020 hingga Februari 2021 Thresher Shark Indonesia melibatkan nelayan hiu tikus di Alor dalam upaya penelitian, untuk memahami habitat dan keberadaan spesies di dalam Kawasan Konservasi Perairan (KKP) seluas 400.000 Ha.

Digital Report Download the Report

Kelompok Pari Manta 

Kelompok Pari Manta melakukan penelitian sosial ekonomi untuk mengetahui ketergantungan masyarakat terhadap penambangan pasir dan nilai ekonomi dari aktivitas tersebut. Masyarakat di sekitar Desa Alila Timur sering melakukan penambangan pasir tepi pantai secara ilegal. Hal ini sangat berdampak terhadap kerusakan lingkungan sekitar seperti, abrasi pantai yang mengakibatkan longsor dan kerusakan pemukiman penduduk. Sedangkan, penambangan pasir merupakan salah satu mata pencaharian bagi masyarakat di sekitar Alila Timur.

Dalam proyek ini, kelompok Pari Manta turut bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mencari alternatif bagi masyarakat setempat dan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan,seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Akademisi, Yasasan Alor Indan, dan kelompok pemerharti lingkungan.  Selain itu, mereka juga mengajak masyarakat untuk dampak buruk penambangan pasir terhadap lingkungan dan melakukan penanaman kembali 300 anakan pohon di kawasan pesisir. 

Kelompok Dugong 

Kelompok Dugong memiliki fokus proyek untuk memberikan pengetahuan terkait bahaya, dampak, dan cara pengelolaan sampah di pesisir Desa Lewalu. Desa Lewalu merupakan desa pesisir Alor yang memiliki permasalahan sampah, seperti banyaknya sampah yang berserakan di pekarangan rumah dan sampahyang  hanyut ke laut. Permasalahan ini terjadi karena tidak tersedianya tempat sampah sementara di desa, dan juga kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah. Selain itu, praktik masyarakat yang masih membakar sampah meningkatkan angka Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) di Desa Lewalu. 

Kelompok Dugong menginiasi kegiatan kerja bakti rutin di tingkat desa untuk membersihkan daerah pesisir dan Desa Lewalu dengan menggandeng komunitas, masyarakat setempat, LSM dan siswa sekolah dalam kegiatan tersebut. Harapannya, kegiatan kerja bakti ini dapat membawa kebiasaan baru bagi masyarakat untuk mengelola sampah mereka dimulai dari rumah. 

Kelompok Hiu Tikus 

Desa Lewalu merupakan desa yang masyarakatnya bergantung kepada spesies Hiu Tikus (Thresher Shark), saat ini statusnya terancam punah. Hiu Tikus merupakan sumber ekonomi, dan sumber makanan bagi masyarakat Desa Lewalu. Sejalan dengan program konservasi hiu tikus yang digagas oleh Thresher Shark Indonesia, kelompok Hiu Tikus bekerja di tingkat Desa dalam upaya advokasi, membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat, dan menjadi mediator Kabupaten dalam upaya pemberdayaan ekonomi alternatif bagi nelayan yang bergantung pada Hiu Tikus.

Kelompok Penyu 

Ekosistem mangrove di Desa Pailelang mengalami kerusakan kritis hingga 50%. Banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan ini, dan faktor yang paling signifikan adalah ekploitasi magrove oleh masayrakat lokal. Untuk mengatasi masalah ini, Kelompok Penyu bekerja sama dengan masyarakat di Desa Pailelang untuk merehabilitasi mangrove di pesisir pantai dengan menanam 800 bibit mangrove. Dalam jangka panjang, upaya ini juga  penting untuk meningkatkan ketahanan pesisir dari banjir tetapi juga memitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dari atmosfer.